seven squad PA

Senin, 05 Agustus 2013

Saat Cangkir Kopi Telah Habis, dan Percakapan Hampir Usai

Melati tumbuh menghadap senja
Langit porak poranda dihantam waktu
Mega-mega berdarah kemerahan, semburat-semburat indah
Hari ini telah habis, menyisakan malam yang dingin miris

Tapak-tapak lembut menjamah jalanan
Berbekal semangat dan mimpi-mimpi tentang kedamaian
Satu tujuan maju kedepan, disana akan kami jemput masa depan
Kami cium tangan-tangan lembut para malaikat yang beri kami jawaban atas pertanyaan
Malaikat-malaikat yang barangkali lebih sering merasa kecewa,
Dibanding secuil bahagia saat bantu kami rasakan indahnya dunia
Malaikat-malaikat yang jauh lebih terluka, saat kami merasa putus asa

Kami sadar kami bukanlah peri ataupun bidadari
Kami juga bukan nabi yang sempurna tanpa cela
Tetapi kami bisa berdiri sendiri, kuatkan tekad dalam hati
Kami susun mimpi-mimpi setinggi angkasa
Dan kami bentangkan seluas mahakarya bimasakti
Kami ciptakan laut mengilau penuh asa
Lalu kami arungi dengan dayungan-dayungan kecil namun pasti
Barsama-sama, bahu membahu. Kami bersatu,

Sekumpulan tetes air keruh yang terkumpul dalam cangkir ini masih panas
Perlu waktu untuk menyesapnya sedikit-sedikit. Menikmati wangi pekat aromanya
Dan demi waktu yang berlalu begitu cepat, seakan masa depan terburu-buru ingin dijemput
Hari ini harus lebih baik dari hari kemarin,
Kemarin yang masih terlalu perawan untuk membuat kami berfikir dewasa
Kemarin yang masih terlalu egois untuk memahami orang lain
Kemarin yang masih penuh dengan gengsi untuk mengakui kesalahan
Kemarin yang terlalu banyak hal sepele untuk dipikirkan dengan jernih
Kemarin yang sepahit espresso, namun menyisakan banyak kenangan
Hari ini harus lebih indah dari hari kemarin,
Kemarin kita bisa memecah mentari pagi dengan tawa bersama
Kemarin kita bisa membuat yang rumit menjadi mudah bersama-sama
Kemarin kita bisa membuat yang tidak mungkin menjadi mungkin bersama-sama
Kemarin kita bisa membuktikan betapa persahabatan itu indah
Kemarin yang terasa lebih manis daripada krim susu, dan telah menyisakan banyak kenangan.
Hari ini harus bisa mengambil pelajaran dari hari kemarin
Hari esok harus bisa membuktikan bahwa kita mampu menaklukan dunia
Hari esok kita harus tetap menjadi juara, meskipun saat menarik nafas dalam-dalam
Kusadari genggam tangan kita mengendur. Meskipun saat membuka mata bersama singsing mentari
Kusadari kita kidak bersama lagi.

Cangkir-cangkir di hadapan kita telah kosong.
Persis seperti waktu kebersamaan kita yang menjumpai jurang batasnya.
Lalu langit menjadi gemuruh,
Bintang-bintang yang memenuhi sudut langit, kini runtuh
Merah jambu berkabung menjadi kelabu. Kemudian air mata dan pipi saling beradu
Perjumpaan terasa fana, pada akhirnya selalu saja harus ada perpisahan
Tetapi mungkin yang seperti itulah
Rencana terbaik dari tangan Yang Maha Kuasa. Untuk diriku, untuk dirimu, untuk dirinya
Untuk mereka, untuk kita semua.

-Yogyakarta, Juni 2013

Tidak ada komentar: